Jumat, 02 Januari 2009

Tolak BHP ?


Pengesahan Undang-Undang BHP

baca dulu apa yang telah Ditulis oleh Irwandi,
setelah itu boleh komentar, oke...
Friday, 19 December 2008


Salah satu perkembangan mutakhir pendidikan Indonesia adalah pengesahan Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP) menjadi Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) (17/12/2008) oleh DPR RI. UU BHP menempatkan satuan pendidikan sebagai subjek hukum yang memiliki otonomi luas, akademik maupun non akademik, tanpa khawatir lagi dengan kooptasi birokrasi. Otonomi yang diberikan dikunci oleh Undang-Undang BHP harus dilandasi oleh prinsip-prinsip seperti nirlaba, akuntabilitas, transparan, jaminan mutu dan seterusnya yang memastikan tidak boleh ada komersialisasi dalam BHP. BHP memastikan bahwa komitmen pemerintah untuk membantu lembaga pendidikan tidak pernah berkurang bahkan bertambah besar.Namun dibalik idealisme dan tujuan Undang-Undang BHP itu dibuat, muncul kritik-kritik dari beberapa kalangan yang mengatakan bahwa BHP adalah sebuah produk undang-undang yang digerakkan oleh mitos otonomi. BHP tidak lebih dari sebuah bentuk lepas tangan Negara atas pembiayaan pendidikan nasional. Lembaga Pendidikan akan mengarah pada tujuan pragmatis komersil ketimbang pada tujuan kritis dan blok histories yang mencerdaskan bangsa dan melahirkan putra-putra terbaik yang bisa membaca tanda-tanda zaman. Pada akhirnya BHP melegasisasi suatu kesempatan kepada satuan pendidikan untuk memberi peluang bagi calon mahasiswa berkapasitas intelegensia rendah untuk mengambil kursi mahasiswa lain yang berkualitas tinggi jika mampu memberi imbalan tertentu.Itu adalah wacana pemikiran yang lazim dalam sebuah Negara demokratis. Pembentukan Undang-Undang BHP ini adalah merupakan amanah dari Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 pasal 53 ayat (1) bahwa “penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum”. Pembentukan BHP ini adalah merupakan bentuk koreksi atas pelaksanaan BHMN yang telah berjalan selama ini dan bukan replika dari BHMN.Undang-Undang BHP menempatkan satuan pendidikan bukan sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Departemen Pendidikan Nasional, tapi sebagai suatu unit yang otonom. Rantai birokrasi diputus habis diserahkan ke dalam organ badan hukum pendidikan yang menjalankan fungsi badan hukum: penentuan kebijakan umum dan pengelolaan pendidikan. Misalnya di dalam satuan pendidikan perguruan tinggi, praktek selama ini bahwa untuk memilih seorang rektor harus melewati tujuh lapis birokrasi (tingkat senat, Dirjen Dikti, Inspektora Jenderal, Sekjen Depdiknas, Menteri Pendidikan Nasional, Tim penilai akhir Sekretariat Negara dan akhirnya sampai ke Presiden). Saat ini, dengan BHP hal itu tidak lagi terjadi, rektor dipilih dan ditetapkan oleh organ representasi pemangku kepentingan.UU BHP menjamin bahwa peserta didik hanya membayar biaya pendidikan paling banyak 1/3 dari biaya operasional satu satuan pendidikan, bukan biaya investasi. Selama ini satuan pendidikan sangat tergantung dari pendanaan dari peserta didik bahkan sampai sembilan puluh persen. Saat ini, BHP membatasi menjadi 1/3 maksimal dari biaya operasional. Ini adalah jaminan Undang-Undang BHP bahwa kenaikan SPP seperti yang banyak dikhawatirkan rasanya tidak mungkin terjadi. UU BHP menjamin secara khusus warga negara Indonesia yang tidak mampu secara ekonomi tapi berpotensi secara akademik, terutama yang ada di quintil lima termiskin, dimana sampai saat ini hanya 3 Persen dari kategori ini yang menikmati pendidikan tinggi. Satuan Pendidikan BHP wajib menjaring dan menerima warga Negara Indonesia yang memiliki potensi akademik tinggi dan kurang mampu paling sedikit 20 persen dari keseluruhan peserta didik yang baru. Satuan Pendidikan BHP harus menunjukkan kepada publik bahwa mereka menerima dan menyediakan paling sedikti 20 persen beasiswa atau bantuan biaya pendidikan untuk mereka yang kurang mampu dan/atau peserta didik yang memiliki potensi akademiki tinggi. Undang-Undang BHP mengikat tanggungjawab pemerintah dalam pendanaan pendidikan. Misalnya Pemerintah menanggung seluruh biaya pendidikan untuk BHPP dan BHPPD dalam menyelenggarakan pendidikan dasar untuk biaya operasional, investasi, beasiswa dan bantuan biaya pendidikan bagi peserta didik. Pemerintah bersama-sama dengan BHPP menanggung seluruh biaya investasi, beasiswa, dan bantuan biaya pendidikan pada BHPP yang menyelenggarakan pendidikan tinggi. menurut Dirjen Dikti, dr. Fasli Jalal, Ph.D dalam konferensi Pers (18/12) justru pemerintah yang akan pontang-panting mencarikan dana untuk tanggung jawab yang sangat besar ini. Sebagai badan hukum, satuan pendidikan memiliki wewenang hokum untuk melakuka tindakan hukum dan konsekwensi hukum atas penggunaan hak itu. Pasal 63 menyebutkan “ setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1), pasal 38 ayat (3), dan pasal 39 dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun da dapat ditambah dengan denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Pasal 4 ayat (1), pasal 38 ayat (3) da pasal 39 adalah pasal yang mengatakan bahwa pendidikan itu adalah nirlaba, seluruh sisa dari hasil usaha dari kegiatan BHP harus ditanamkan kembali ke dalam BHP untuk meningkatkan kapasitas dan/atau mutu layanan pendidikan

Minggu, 21 Desember 2008

PAGOEJOEBAN PASOENDAN

Hey urang Bandung .............
Bagaimana bisa di Bandung sekarang ini masih ada Paguyuan Pasundan? Bukankah etnis Sunda merupakan mayoritas disana? mengapa Paguyuban Pasundan masih ada sekarang ini, sementara organisasi sejenis dan sezaman sudah lama berlalu dari panggung sejarah? apakah masih ada relevansinya dengan situasi sekarang?
Pertanyaan-pertanyaan diatas merupakan kepanjangan tangan, kepanjangan ide atau pemikiran, kepanjangan mulut ( tukul dong... hehe sorry mas tukul, maenannya fisik) dari penulis (soeharto) buku Pagoeyoeban Pasoendan 1927-1942. Tetapi pertanyaan itu bukanlah pertanyaan yang harus dijawab, karena pertanyaan itu adalah sebuah pernyataan. Kenyataan yang sedang, akan dan selalu dihadapi oleh warga Paguyuban, yang merupakan suatu motivasi yang mengingatkan mau dibawa ke arah mana organisasi yang begitu besar ini. Tentu saja sebuah hal yang wajar bila kita ingin memajukan etnis kita sendiri, tetapi akan menjadi tidak wajar bila pertanyaan tersebut diabaikan. Supaya tambah bingung lagi, baca saja di Pagoeyoeban Pasoendan 1927-1942

Minggu, 07 Desember 2008

Menjelajahi bumi dengan Google erath

Globe atau tiruan bola bumi biasa kita gunakan untuk belajar geografi. Namun kini ada pilihan yang lebih fantastik dan menyenangkan, yaitu Google Earth. Perangkat lunak ini bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan di sekolah-sekolah. Sembari mengenalkan tempat-tempat penting di dunia, anak-anak bisa diajak terbang secara virtual lewat perangkat lunak ini. Lewat Google Earth, anak-anak bisa diajak mengenali permukaan bumi, wilayah, gedung-gedung, hingga mengeksplorasi galaksi di langit. Bahkan anak-anak bisa diajak untuk menandai letak tempat tinggal mereka ataupun rumah nenek yang belum tertandai. Google Earth bekerja lewat tamsil satelit dengan image yang cukup terupdate. Citra permukaan bumi ini diambil dari satelit yang terekam oleh Nasa. Di atas ketinggian 200 meter--bahkan bisa lebih rendah-- anak-anak bisa menikmati kawasan bumi dengan cepat. Untuk memaksimalkan Google Earth buku Mengoptimalkan Peta Dunia Interaktif di Internet yang berisi tutorial dan aneka tip dan trik bisa mendampingi anak-anak untuk belajar Google. Namun tentu dengan panduan orang tuanya. Selamat belajar dan menjelajahi bumi dan langit.

Guru hari ini

Guru menjadi ujung tombak dalam pembangunan pendidikan nasional. Utamanya dalam membangun dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan formal.
Guru profesional dan bermartabat menjadi impian kita semua karena akan melahirkan anak bangsa yang cerdas, kritis, inovatif, demokratis, dan berakhlak. Guru profesional dan bermartabat memberikan teladan bagi terbentuknya kualitas sumber daya manusia yang kuat. Sertifikasi guru mendulang harapan agar terwujudnya impian tersebut. Perwujudan impian ini tidak seperti membalik talapak tangan. Karena itu, perlu kerja keras dan sinergi dari semua pihak yakni, pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, dan guru
.